Gevedu: Rangkuman Materi IPS SD Kelas 4,5 dan 6 Semester 1 dan 2 (Paket 2)

Rangkuman IPS SD - Selamat datang di Geveducation, apa kabar Bapak/Ibu guru kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD? pada kesempatan semester 2 genap tahun pelajaran 2018/2019 ini berikut admin share mengenai Rangkuman Materi Muatan IPS Tematik K-2013 Kurtilas Kurikulum 2013 SD yang mana rangkuman materi IPS atau  Ilmu Pengetahuan Sosial ini dapat juga adik-adik kelas 6 SD simak sebagai referensi belajar mempersiapkan diri menghadapi pelaksanaan Ujian Sekolah 2019 USBN 2019.

Kerajaan Majapahit

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 Masehi dan berpusat di pulau Jawa bagian timur tepatnya di daerah Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara.
Setelah Kerajaan Singasari mengusir Kerajaan Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Kubilai Khan dari Cina tertarik pada kekuasaan Majapahit yang meningkat. Namun, pada tahun 1293, seorang pemberontak dari kerajaan Kediri bernama Jayakatwang sudah membunuh Kertanegara. Kertajasa atau Raden Wijaya, yaitu anak menantu Kertanegara, kemudian bersekutu dengan orang Mongol untuk melawan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang meninggal, ia menyuruh pasukan mongol untuk kembali dengan cara paksa. Pada tahun 1923 pula, Raden Wijaya membangun sebuah kerajaan yang kemudian ia beri nama Majapahit.
Pada tahun 1293 Raden Wijaya membangun Keraton Majapahit pada sekitar daerah Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1350 Kerajaan Majapahit dipindahkan ke daerah Trowulan, pada masa Raja Hayam Wuruk.
Berdasar sumber sejarah Majapahit dapat disimpulkan menjadi dua sumber, yakni Kitab Sastra dan Kornik Cina. Berdasar Kitab Sastra, Kitab Pararaton menceritakan tentang raja-raja Singasari juga menjelaskan raja-raja Majapahit. Prasasti Butak mengisahkan peristiwa keruntuhan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan Majapahit. Kitab Kutaramanawa berisikan tentang aturan hukum di Majapahit. Kitab Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya, dan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi daerah kekuasaannya. Kitab Usaha Jawa menjelaskan tentang penaklukan pulau Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar.
Berdasar Kronik Cina, Buku Ying Yai menceritakan tentang keadaan masyarakat dan kota Majapahit tahun 1418. Masa Dinasty Ming menceritakan tentang struktur dan filsafat Majapahit pada tahun 1368-1643. Berita Portugis tahun 1518 menceritakan tentang budaya Majapahit.
Adapun raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Majapahit, antara lain:

1. Raden Wijaya
Raden Wijaya adalah raja pertama yang memimpin Majapahit, bergelar Kertajasa Jaya Wardana, ia memimpin Majapahit dari tahun 1293-1309 Masehi. Beliau menikah dengan ke empat puteri Kertanegara, yaitu Dyah Dewi Tribuwaneswari, Dyah Dewi Narendraduhita, Dyah Dewi Prajnnaparamita, dan Dyah Dewi Gayatri. Langkah Raden Wijaya mengawini purti-putri Kertanegara diduga berlatar belakang politik, agar tidak terjadi perebutan kekuasaan.

2. Jayanegara
Setelah Raden Wijaya meninggal, tahta digantikan oleh Jayanegara atau Kala Gemet pada tahun 1309, beliau merupakan raja yang lemah, sehingga banyak terjadi pemberontakan. Pada saat itu Gajah Mada memegang jabatan sebagai Kepala Bhayangkari. Sejumlah pemberontakan yang terjadi yakni:
a. Pemberontakan Ronggowale, dapat diatasi.
b. Pemberontakan Lembu Sora, dapat diredam.
c. Pemberontakan Nambi, dapat diatasi.
d. Pemberontakan Kuti pada tahun 1319, yang kemudian dapat diatasi berkat jasa Gajah Mada dan atas jasanya tersebut Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan. Pada tahun 1321 Gajah Mada diangkat menjadi Patih Daha.
Raja Jayanegara pada tahun 1328 meninggal dunia karena dibunuh Tanca (seorang dokter istana). Gajah Mada turun tangan untuk membunuh Tanca. Pada masa tersebut memang terjadi banyak pergolakan.

3. Tribuwana Tunggadewi
Karena Jayanegara tidak mempunyai seorang putra, tahta seharusnya jatuh ke tangan Gayatri. Karena Gayatri memilih menjadi Biksuni, maka Tribuwana Tunggadewi putrinya ditunjuk sebagai wakil dan diangkat menjadi raja ketiga bergelar Tribuwana Tunggadewi Jayawinuwindari pada tahun 1328.
Pada masa kekuasaannya, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit. Pada saat dilantik ia mengucapkan sebuah sumpah yang kemudian dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Ini adalah awal permulaan zaman keemasan Majapahit. Namun, pada tahun 1350 Gayatri wafat, maka Tribuwana Tunggadewi yang merupakan wakil ibunya segera turun tahta, menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Hayam Wuruk.

4. Hayam Wuruk
Pada saat pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1387, Majapahit mencapai zaman keemasannya. Cita-cita Gajah Mada yang diucapkan lewat Sumpah Palapa, yang disebut pula sebagai Wawasan Nusantara II dapat tercapai. Wilayah Majapahit hampir sama dengan wilayah Republik Indonesia, maka Majapahit disebut sebagai Negara Maritim Nasional II.

5. Kusumawardani
Kusumawardani merupakan putri Hayam Wuruk yang kemudian diangkat menjadi raja pada tahun 1389-1429 Masehi. Pada masa pemerintahannya terjadi perang saudara antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana yang disebut Perang Paregreg. Kemudian berakhit dengan terbunuhnya Wirabhumi.
Adapun raja-raja lain tidak terlalu dijelaskan secara detail pada sumber-sumber sejarah Majapahit, karena raja-raja yang lain tidak terlalu penting kedudukannya di Kerjaan Majapahit. Raja-raja tersebut, di antaranya:
a. Dewi Suhita (1429-1447 Masehi).
b. Bhre Tumapel (1447-1451 Masehi).
c. Bhre Kahuripan (1451-1453 Masehi).
d. Purwawisesa (1457-1467 Masehi).
e. Pandan Salas (1467-1478 Masehi).
Runtuhnya Kerajaan Majapahit disebabkan oleh sejumlah faktor, meliputi:

1. Faktor politik
Kesatuan Majapahit itu berkat kekuatan Gajah Mada, tetapi setelah Gajah Mada meninggal, banyak daerah Cina yang otonom tidak membayar pajak dan meninggalkan Majapahit.

2. Faktor kepercayaan
Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, sudah mulai berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak agama Islam. Karena itu, para pengikut Majapahit sudah mulai meninggalkan Majapahit sedikit demi sedikit untuk berpindah ke kerajaan Islam tersebut.

3. Faktor ekonomi
Perbedaan ideologi, penyebaran Islam di Asia Tenggara, melalui jalur perdagangan yang lebih dulu terpengaruh adalah bandar, maka bandar Majapahit beragama Islam, tetapi Majapahit masih Hindu. Para bandar pun menentang Majapahit dan meninggalkan Majapahit.

4. Faktor perselisihan
Sebelum Majapahit runtuh terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Akhirnya Wirabhumi meninggal dunia. Setelah itu, terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an. Pemberontakan besar dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Ketika Majapahit mengalami keruntuhan, Majapahit meninggalkan sejumlah peninggalan, di antaranya:

1. Candi Sukuh

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Berbeda dengan candi-candi peninggalan kerjaan Majapahit lainnya, Candi Sukuh dianggap memiliki bentuk yang tidak lazim. Di sekitar reruntuhan bangunan ini banyak ditemukan obyek Lingga dan Yoni  yang menjadi pelambang seksualitas.

2. Candi Cetho

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini diperkirakan berasal dari masa akhir keruntuhan Kerajaan Majapahit sebelum menjelang keruntuhannya atau tepatnya sekitar abad ke-15 Masehi. Candi ini ditemukan pada tahun 1842 berkat tulisan arkeolog Belanda bernama van de Vlies.

3. Candi Pari

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Pari terletak di Desa Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Candi yang diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 Masehi) ini terletak sekitar 2 km arah Barat Laut semburan pusat panas lumpur Lapindo Brantas.

4. Candi Jabung

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Jabung terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Meski hanya terbuat dari susunan batu merah, bangunan candi ini nyatanya dapat bertahan lintas zaman. Saat lawatannya keliling Jawa Timur di tahun 1359, Raja Hayam Wuruk diperkirakan pernah menyinggahi candi ini.

5. Gapura Wringin Lawang

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Terbuat dari bata merah, bangunan yang tingginya 15,5 meter ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 Masehi. Gaya arsitekturnya yang mirip Candi Bentar, membuat banyak ahli berspekulasi dan menyebut jika bangunan ini merupakan pintu gerbang untuk memasuki kediaman Mahapatih Gajah Mada.

6. Gapura Bajang Ratu

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Diperkirakan bangunan ini dibangun pada abad ke-14 Masehi. Pada kitab Negarakertagama, gapura ini disebutkan berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam sebuah bangunan suci yang memperingati wafatnya Raja Jayanegara.

7. Candi Brahu

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Brahu terletak di kawasan situs arkeologi Trowulan, tepatnya berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pada prasasti yang dibuat Mpu Sendok disebut bahwa Candi Brahu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Majapahit.

8. Candi Tikus

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi Tikus terletak di situs arkeologi Trowulan, tepatnya berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini dinamai Candi Tikus karena di awal penemuannya, warga melihat bangunan ini menjadi sarang bagi tikus-tikus liar.

9. Candi Surawana

 Secara harfiah Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar  Gevedu:  Kerajaan Majapahit

Candi ini terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur. Tepatnya berada sekitar 25 km timur laut Kota Kediri. Candi yang sesungguhnya bernama Candi Wishnubhawanapura ini dibangun di abad 14 Masehi. Pembangunan ditujukan untuk memuliakan Bhre Wengker. Bhre Wengker adalah seorang raja dari Kerajaan Wengker, kerajaan yang berbeda di bawah kekuasaan Majapahit.



Kerajaan Samudera Pasai

 Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke Gevedu:  Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke-13, setelah kehancuran kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Malik As-Saleh setelah beliau masuk agama Islam. Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Sultan Malik As-Saleh berkuasa kurang lebih 29 tahun, yakni sekitar tahun 1297-1326 Masehi. Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Peurlak.
Keberadaan Samudera Pasai diperkuat oleh catatan Ibnu Batutah, sejarawan asal Maroko. Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai merupakan pusat studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346 Masehi. Ibnu Batutah menyebutnya sebagai sumutrah, ejaan untuk nama Samudera, yang kemudian menjadi Sumatera. Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Kemudian laksamana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada raja. Ia diundang ke istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu dari Malik As-Saleh.
Berdasarkan catatan Ibnu Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak abad ke-12. Raja dan rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Setelah setahun di Pasai, Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada tahun 1347 Masehi.
Pemerintahan Sultan Malik As-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir dari perkawinannya dengan putri raja Peurlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir diperkenalkan koin emas sebagai mata uang di Pasai. Seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Pada tahun 1326 Masehi, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik Az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345 Masehi.
Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, putra Sultan Mahmud Malik Az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345-1350 Masehi, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan.
Kesultanan Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir tahun 1383 Masehi, dan memerintah sampai tahun 1405 Masehi. Pada kronik Cina, ia dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan tewas oleh raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya, Sultanah Nahrasiyah.
Armada Cheng Ho, yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut-turut pada tahun 1405, 1408, dan 1412 Masehi. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh Ma Huan dan Fei Xin, secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi di sebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, yakni Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat akan berjumpa dengan kerajaan Lambri yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Pada kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.
Sekitar tahun 1434, Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-khan, namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi sejumlah pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin meceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.
Pada abad ke-16, bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada tahun 1521 hingga tahun 1541 Masehi. Selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan kerajaan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam.
Kehidupan sosial kemasyarakatan di kerajaan Samudera Pasai diatur dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam. Semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati dikembangkan dalam masyarakat. Hubungan antara sultan dengan rakyat juga akrab. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama. Sultan juga sangat hormat pada setiap tamu yang datang. Bahkan tidak jarang memberikan tanda mata pada tamu-tamunya. Adapun hasil kebudayaan secara fisik kerajaan Samudera Pasai tidak banyak ditemukan.

 Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke Gevedu:  Kerajaan Samudera Pasai
Penulisan hikayat raja Pasai

 Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke Gevedu:  Kerajaan Samudera Pasai

Batu nisan Sultan Malik As-Saleh

 Kerajaan Samudera Pasai muncul pada abad ke Gevedu:  Kerajaan Samudera Pasai

Uang di masa pemerintahan Kesultanan Pasai


Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)


 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan saling berhubungan baik. Kedua kerajaan tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Makassar sebenarnya adalah ibu kota Gowa yang juga disebut sebagai Ujung Padang.
Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan kondisi tersebut, Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Robandang dari Sumatera. Pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makassar kala itu juga memeluk agama Islam. Raja Makassar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Ma’towaya Tumamenanga Ri Agamanna (Raja Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin, memerintah Makassar pada tahun 1591-1638, dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) yang bergelar Sultan Abdullah. Sejak itu, Kerajaan Makassar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639-1653).
Kerajaan Makassar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653-1669). Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, yaitu dengan menguasai daerah-daerah subur serta daerah-daerah yang menunjang keperluan perdagangan Makassar. Kerajaan Makassar berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Perluasan daerah Kerajaan Makassar tersebut bahkan sampai ke Nusa Tenggara Barat.
Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu, ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC, yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu, hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh Kerajaan Makassar. Dengan kondisi tersebut, maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut, Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Kerajaan Makassar, yakni dengan melakukan politik adu domba antara Kerajaan Makassar dan Kerajaan Bone. Raja Bone kala itu, yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Kerajaan Makassar mengadakan persetujuan dengan VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Makassar. Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota Kerajaan Makassar.
Secara terpaksa Kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang berisi:
1. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Kerajaan Makassar.
2. Belanda dapat mendirikan benteng di Makassar.
3. Kerajaan Makassar harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya, seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makassar.
4. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makassar terhadap Belanda tetap berlangsung. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makassar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makassar, dan Kerajaan Makassar mengalami kehancurannya.
Adapun hasil-hasil kebudayaan dari Kerajaan Gowa dan Tallo, antara lain:

1. Benteng Fort Rotterdam

 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Benteng Fort Rotterdam adalah sebuah bangunan benteng peninggalan masa kejayaan kerajaan Gowa dan Tallo yang terletak di pesisir barat pantai kota Makassar. Benteng ini dibangun oleh raja Gowa ke-9, yakni I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi Kallonna pada tahun 1545. Karena awalnya berbahan tanah liat, Raja Gowa ke-14, yakni Sultan Alaudin kemudian memugar bangunan benteng dengan bahan batu padas yang diperoleh dari Pegunungan Karts di Maros.

2. Batu Pallantikang

 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Batu Pallantikang atau batu pelantikan adalah sebuah batu andesit yang diapit batu kapur. Batu peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo ini dipercaya memiliki tuah karena dianggap sebagai batu dari kahyangan. Karena anggapan tersebut, sesuai namanya batu ini digunakan sebagai tempat pengambilan sumpah atas setiap raja atau penguasa baru di Kerajaan Gowa dan Tallo. Batu ini masih berada di tempat aslinya, yakni di Tenggara Kompleks Pemakaman Tamalate.

3. Masjid Katangka

 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Masjid Katangka atau dikenal dengan Masjid Al-Hilal adalah masjid peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo yang diperkirakan dibangun pada tahun 1603. Masjid ini secara administratif terletak di Desa Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Nama katangka diyakini berasal dari nama bahan pembuatnya, yaitu kayu katangka.

4. Kompleks Makam Katangka

 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Di areal Masjid Katangka, terdapat sebuah kompleks pemakaman dari mendiang keluarga dan keturunan raja-raja Gowa, termasuk makam Sultan Hasannudin. Makam  raja-raja dapat dikenali dengan mudah karena diatapi dengan kubah. Sementara makam pemuka agama, kerabat, serta keturunan raja hanya ditandai dengan batu nisan biasa.

5. Makam Syekh Yusuf

 Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan dua kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan sali Gevedu:  Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)

Syekh Yusuf adalah ulama besar yang hidup di zaman kolonial Belanda. Pengaruhnya sangat besar bagi perlawanan rakyat Gowa dan Tallo terhadap penjajah, membuat Belanda mengasingkannya ke Srilangka, kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan. Jenazahnya setelah beberapa tahun kemudian dikembalikan ke Makassar dan dimakamkan di dataran rendah Lakiung, sebelah barat Masjid Katangka.



Kerajaan Kutai Mulawarman

Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia, yang muncul pada abad ke-5 Masehi atau kurang lebih tahun 400 Masehi. Kerajaan ini teletak di Muara Karam, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli, mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti Yupa yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut.
Kutai tidak terletak dalam sebuah jalur perdagangan internasional, akan tetapi kerajaan tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan India. Melalui hubungan dagang tersebut, pengaruh Hindu-Budha mulai tersebar. Salah satu buktinya menerangkan mengenai kerajaan Kutai di mana Yupa diidentifikasi yang merupakan suatu peninggalan Hindu-Budha dan bahasa yang digunakan, yakni bahasa Sansekerta. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa Hindu asli. Tulisan atau bentuk dari hurufnya dinamakan huruf Pallawa, yaitu tulisan yang digunakan pada tanah Hindu Selatan berkisar di tahun 400 Masehi. Berdasar adanya bentuk huruf dari prasasti yang telah ditemukan tersebut, maka para ahli menyatakan bahwa Yupa tersebut telah dibuat sekitar abad ke-5 Masehi. Maka, dapat diperkirakan bahwa kerajaan Kutai Mulawarman merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

 Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia Gevedu:  Kerajaan Kutai Mulawarman
Yupa Kerajaan Kutai Mulawarman

Yupa merupakan sebuah tiang batu berukuran kurang lebih 1 meter dan sebagian ditanam di atas tanah. Pada tiang batu ini terukir prasasti dari kerajaan Kutai Mulawarman yang dianggap sebagai sumber tulisan tertua, sehingga Indonesia mulai memasuki masa sejarah dan mengakhiri masa pra sejarah.
Kerajaan Kutai Mulawarman diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh (7) buah Yupa yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang berasal dari India. Yupa memiliki tiga (3) fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja.
Melalui tulisan yang tertera pada Yupa nama raja Kudungga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia, namun nama raja penggantinya seperti Aswawarman dan Mulawarman menunjukkan nama yang diambil dari nama India. Dari sana dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Hindu (India) telah masuk di Kerajaan Kuta Mulawarman. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sansekerta. Kata tersebut biasanya digunakan untuk akhiran nama-nama masyarakat atau penduduk India Selatan.
Pada salah satu Yupa, diketahui bahwa yang menjadi cikal bakal dari kerajaan Kutai Mulawarman adalah Kundungga, yang diteruskan kepada Aswawarman. Kemudian pengganti dari Aswawarman yang memiliki putra sebanyak tiga orang, yakni Mulawarman. Pada zaman Mulawarman lah kerajaan Kutai Mulawarman mencapai masa kejayaannya.
Ditinjau dari aktivitas ekonomi, pada salah satu Yupa tertulis bahwa Raja Mulawarman telah melakukan sebuah upacara korban emas yang sangat banyak. Kemajuan dari kerjaaan Kutai Mulawarman ini juga terlihat dari tanda adanya golongan terdidik. Mereka terdiri atas golongan Ksatria dan Brahmana yang kemungkinan telah berpergian ke India atau pada pusat-pusat penyebaran agama Hindu yang ada di Asia Tenggara. “Masyarakat tersebut mendapat kedudukan yang terhormat dalam kerajaan Kutai (Mulawarman)” (Mamat Ruhimat, dkk. 2006, hlm. 203).
Terdapat sejumlah aspek kehidupan yang dapat kita cermati dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Kutai Mulawarman, yakni:

1. Kehidupan sosial

 Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia Gevedu:  Kerajaan Kutai Mulawarman

Kerjaan Kutai Mulawarman memiliki golongan masyarakat yang telah menguasai bahasa Sansekerta dan dapat menulis huruf Pallawa, yakni golongan Brahmana. Golongan yang lain, yakni golongan Ksatria yang terdiri atas kerabat dari Raja Mulawarman. Masyarakat Kutai Mulawarman merupakan golongan penduduk yang masih erat memegang teguh kepercayaan asli dari leluhur mereka. Mulawarman kemudian menjadi penganut agama Hindu Syiwa dan golongan para Brahmana.

2. Kehidupan politik

 Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia Gevedu:  Kerajaan Kutai Mulawarman

Kudungga tidak dianggap sebagai pendiri dari dinasti karena menggunakan konsep keluarga raja di zaman tersebut masih terbatas di para keluarga raja yang telah menyerap kebudayaan India pada setiap kehidupan dalam sehari-hari. Raja Mulawarman juga menciptakan adanya stabilitas politik pada masa pemerintahannya tersebut. Itu terlihat dari adanya Yupa yang menyebutkan bahwa Mulawarman menjadi raja berkuasa, kuat, dan bijaksana.

3. Kehidupan ekonomi

 Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia Gevedu:  Kerajaan Kutai Mulawarman

Mata pencaharian utama pada masyarakat zaman kerajaan Kutai Mulawarman merupakan beternak sapi, bercocok tanam, dan berdagang. Hal ini terlihat dari kerjaan Kutai Mulawarman yang terletak berada di tepian sungai Mahakam yang sangat subur, sehingga cocok untuk mengembala sapi dan bercocok tanam.
Kerajaan Kutai Mulawarman berakhir saat raja Kutai Mulawarman yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan raja Kutai Kartanegara ke-13, yakni Aji Pangeran Unum Panji Mendapa.

Referensi
Ruhimat, M., dkk. (2006). IPS Terpadu Kelas VII Jilid I. Jakarta: Grafindo Media Pratama.

Demikian  Gevedu:  Rangkuman Materi IPS SD Kelas 4,5 dan 6 Semester 1 dan 2 (Paket 2)

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya