Gevedu: Sejarah Peringatan Hari ...


IPS -  Berikut mengenai sejarah Hari Buruh Internasional , Hari Konsumen Nasional, Hari Air Sedunia, Sejarah Hari Musik Nasional dan lain-lain..

Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei


 Mei sebagai Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day lekat Gevedu:  Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei

Peringatan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day lekat dengan peristiwa yang terjadi di lapangan Haymarket, Chicago Illinois, Amerika Serikat pada 4 Mei 1886. Aksi ini berkaitan dengan aksi mogok kerja yang sudah berlangsung pada April 1886.
Kala itu, kaum pekerja sudah muak atas dominasi kelas borjuis dan telah mencapai puncaknya. Hal tersebut memicu ratusan ribu orang dari kelas pekerja memilih bergabung dengan organisasi pekerja (Knights of Labour) yang bercita-cita menghentikan dominasi kelas borjuis.
Perjuangan kelas pekerja saat itu menemukan momentumnya di kota Chicago. Chicago pada kala itu merupakan salah satu kota yang menjadi pusat pengorganisasian serikat-serikat pekerja di negara AS. Gerakan serikat pekerja di Chicago sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Mereka juga telah melakukan berbagai propaganda tanpa henti sebelum bulan Meit tiba.
Masih di bulan April menjelang Mei 1886, sekitar 50.000 pekerja sudah melakukan aksi mogok kerja dengan cara turun ke jalan. Mereka mendesak pemerintah memberlakukan peraturan delapan jam kerja dalam sehari. Pada tahun 1830-an telah muncul tuntutan agar jam kerja dijadikan 10 jam. Tetapi, kemudian hal tersebut dianggap terlalu lama, dengan patokan sebaiknya kehidupan seorang individu dalam sehari terbagi menjadi delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, dan delapan jam tidur atau istirahat.
Pada hari-hari berikutnya, jumlah buruh yang ikut aksi mogok kerja semakin bertambah. Para buruh saat itu membawa anak serta istrinya untuk berdemonstrasi sambil meneriakkan tuntutan mereka. Dampak dari aksi mogok kerja yang berlangsung secara masif ini melumpuhkan sektor industri di Chicago. Bahkan, membuat panik kalangan borjuis.
Pada 1 Mei 1886, sekitar 350.000 buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan demonstrasi dan aksi mogok kerja di berbagai negara bagian AS. Dua hari kemudian, pemerintah setempat kian khawatir karena aksi mogok kerja terus berlanjut dan semakin membesar. Pemerintah akhirnya mengutus sejumlah aparat polisi untuk meredam aksi demonstrasi yang berlangsung di pabrik McCormick. Pada kejadian ini empat orang dinyatakan tewas sementara yang mengalami luka-luka tidak terhitung jumlahnya.
Sejak saat itu, Konferensi Sosialis Internasional menyatakan bahwa untuk memperingati insiden Haymarket, setiap tanggal 1 Mei dijadikan hari libur internasional untuk pekerja. Hari libur ini kemudian dikenal di berbagai tempat sebagai International Workers Day atau Hari Buruh.
Di Indonesia sendiri peringatan Hari Buruh Internasional sempat dilarang di era Presiden Soeharto. Hari Buruh Internasional ini kembali menjadi hari libur nasional pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya pada tahun 2014.
Selain menjadi hari libur internasional, May Day juga digunakan untuk menyalurkan pendapat kaum pekerja lewat unjuk rasa atau protes. Ada yang menduga bahwa hal ini berafiliasi dengan panggilan darurat Mayday! Mayday! Namun sebenarnya hal ini tidak berhubungan. Pasalnya panggilan darurat Mayday! berasal dari bahasa Perancis yang berarti “tolong saya”.



Sejarah Hari Musik Nasional 9 Maret


 Hari Musik Nasional jatuh pada tanggal  Gevedu:  Sejarah Hari Musik Nasional 9 Maret

Hari Musik Nasional jatuh pada tanggal 9 Maret. Keberadaan Hari Musik Nasional untuk mengapresiasi para musisi serta karya musik. Adapun tanggal 9 Maret ini berkaitan dengan tanggal lahir pencipta lagu Indonesia Raya, WR Supratman. Beliau pun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasanya menciptakan lagu kebangsaan yang hingga saat ini kita dengan dan nyanyikan. Berangkat dari jasa tersebut, para pegiat musik kemudian memperingati hari musik setiap tanggal 9 Maret bahkan sebelum diresmikan.
Rencana untuk meresmikan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional sendiri telah disusun sejak tahun 2003, di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri atas usul dari Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI). Namun, perlu waktu hampir satu dekade untuk membuat rancangan penetapan Hari Musik Nasional tersebut dapat diresmikan. Hari Musik Nasional diresmikan pada tahun 2013, tepatnya 9 Maret 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional.
Uniknya, penetapan Hari Musik Nasional ini sempat menimbulkan kontroversi. Sebab tanggal lahir WR Supratman masih menjadi perdebatan. Berdasar pada penelusuran sejarah ada sebagian ahli yang menyatakan bahwa WR Supratman justru dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903 bukan pada tanggal 9 Maret 1903. Terlepas dari perdebatan tersebut, tanggal 9 Maret telah resmi ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.
Makna dan tujuan penetapan Hari Musik Nasional ini adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik nasional, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi pegiat musik Indonesia, serta meningkatkan prestasi di bidang musik pada tingkat nasional, regional, dan internasional. Oleh sebab itu, pada setiap peringatan Hari Musik Nasional biasanya terdapat penghargaan bagi insan musik Indonesia baik yang masih berkarya maupun yang telah wafat.
Berdasar Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional, musik merupakan ekspresi budaya universal yang merepresentasikan nilai luhur dan kemanusiaan yang memiliki peran strategis untuk memajukan pembangungan nasional. Diharapkan melalui peringatan Hari Musik Nasional ini, masyarakat Indonesia senantiasa akan lebih menyukai karya yang dihasilkan oleh musisi Indonesia serta instrumen dan warisan musik khas bangsa Indonesia.

Referensi
Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional.


Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

World Water Day atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhatian publik pada pentingnya air bersih dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.
Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini pertama kali diumumkan pada sidang umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-47 pada tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Peringatan ini dimulai pada tahun 1993 untuk memotivasi publik untuk memberikan dukungannya dalam konservasi air dengan mengurangi penggunaan keran air sepanjang hari.
Negara-negara anggota PBB dan berbagai Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan organisasi non pemerintah ikut terlibat dalam gerakan promosi konservasi air bersih yang memfokuskan pada perhatian publik terhadap isu-isu kritis air. Selama peringatannya, seluruh masalah-masalah air memiliki garis besar dalam bagaimana masyarakat yang tidak dapat mengakses air bersih, dan sebagainya.
Setiap tahun sejak tahun 1994 Hari Air Sedunia ini mengusung tema-tema khusus, sebagai berikut:

1. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1994, yakni caring for our water resources is everyone’s business (peduli pada sumber air adalah kepentingan semua pihak).

2. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1995, yakni water and woman (air dan perempuan).

3. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1996, yakni water for thristy city (air untuk kota-kota kehausan).

4. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1997, yakni the world’s water: is there enough? (air dunia: apakah cukup?).

5. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1998, yakni groundwater-the invisible resources (air tanah-sumber air yang tak terlihat).

6. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 1999, yakni everyone lives downstream (hidup semua orang menuju ke hilir).

7. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2000, yakni water for 21st century (air untuk abad 21).

8. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2001, yakni water for health (air untuk kesehatan).

9. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2002, yakni water for development (air untuk pembangunan).

10. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2003, yakni water for future (air untuk masa mendatang).

11. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2004, yakni water and disasters (air dan bencana).

12. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2005, yakni water for life (air untuk kehidupan).

13. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2006, yakni water and culture (air dan budaya).

14. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2007, yakni coping with water scarcity (mengatasi kelangkaan air).

15. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2008, yakni sanitation (sanitasi).

16. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2009, yakni shared water shared opportunities (air bersama, peluang bersama).

17. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2010, yakni clean water for a healty world (air bersih untuk sebuah dunia yang sehat).

18. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2011, yakni water for cities, responding to the urban challenge air untuk kota-kota, menyikapi tantangan perkotaan.

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret


19. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2012, yakni water and food security (air dan ketahanan pangan)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

Pemilihan tema pada tahun 2012 didasarkan pada realita bahwa air merupakan salah satu faktor mendasar dalam memproduksi pangan. Selain itu, berdasarkan statistik, setiap manusia rata-rata meminum 2-4 liter air setiap harinya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar air yang diminum terkandung dalam makanan yang dimakan.

20. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2013, yakni water cooperation (kerjasama air)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

Kerjasama air ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan multidisiplin yang mensinergikan ilmu-ilmu alam, teknik, sosial, pendidikan, budaya, dan komunikasi. Hal ini dikarenakan sifat intrinsik air sebagai elemen transversal dan universal.

21. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2014, yakni water and energy (air dan energi)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

Tema ini dipilih pada tahun 2014 dengan mempertimbangkan keterkaitan yang erat antara air dan energi. Bahkan air dan energi memiliki keterkaitan yang saling ketergantungan. Di mana air dibutuhkan untuk menghasilkan hampir semua bentuk energi. Di sisi lain, energi dibutuhkan pada semua tahapan pengelolaan air, baik mulai proses pengambilan air dari sumbernya, pengolahan air, hingga distribusi air.

22. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2015, yakni water and sustainable development (air dan pembangunan berkelanjutan)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

Tema ini diangkat untuk menyoroti pentingnya air dalam agenda pembanganun berkelanjutan. Air memiliki peran yang penting dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

23. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2016, yakni water and jobs (air dan pekerjaan)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret

Tema ini diangkat karena pada tahun 2016 mengingat hampir setengah dari pekerja di dunia, yakni sekitar 1,5 miliar orang bekerja di sektor yang terkait dengan air bahkan dapat dikatakan hampir semua pekerjaan tergantung pada air. Namun faktanya, jutaan orang yang bekerja tersebut tidak terpenuhi hak-haknya dengan baik.

24. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2017, yakni wastewater (air limbah)

atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhati Gevedu:  Sejarah Hari Air Sedunia 22 Maret


Wastewater menjadi tema Hari Air Sedunia pada tahun 2017 didasari oleh kekurangpedulian terhadap air limbah. Diperkirakan 80% dari air limbah yang dihasilkan oleh masyarakat dunia, masuk ke kembali ke alam tanpa melalui proses penanganan yang benar dan bahkan kemudian dipergunakan kembali.

25. Tema Hari Air Sedunia pada tahun 2018, yakni nature-based solutions for water (solusi berbasis alam untuk air)
Melalui tema ini kita diajak untuk berpikir tentang bagaimana solusi berbasis alam untuk mengatasi tantangan air yang kita hadapi hari ini di abad 21. Sederhananya kita diminta untuk menumbuhkan pohon agar hutan kembali hijau, mengurangi banjir, menciptakan sungai dan ladang yang kaya dengan tanah subur dan memulihkan elemen alam lainnya dari lingkungan yang telah rusak dengan cara membantu dalam memurnikan air yang sudah terkena polusi.


Sejarah Hari Konsumen Nasional 20 April


 pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal  Gevedu:  Sejarah Hari Konsumen Nasional 20 April

Sejak tahun 2012, pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal 20 April sebagai Hari Konsumen Nasional. Hal tersebut diterbitkan melalui Keputusan Presiden  Nomor 13 Tahun 2012 tentang Hari Konsumen Nasional yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tanggal 20 April ini dipilih mengingat tanggal tersebut merupakan tanggal penetapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Peringatan Hari Konsumen Nasional diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsumen akan hak dan kewajibannya. Selain itu, peringatan ini diharapkan akan menempatkan konsumen cerdas yang cinta produk dalam negeri, sehingga memotivasi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan yang siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar global.
Di Indonesia, masalah perlindungan konsumen masih merupakan persoalan yang krusial, terbukti dengan banyaknya kasus-kasus yang sampai sekarang belum juga tuntas. Apabila terjadi suatu sengketa, pihak konsumen selalu dalam posisi yang lemah, sehingga tidak mampu untuk memperjuangkan kepentingannya.
Untuk memperkuat posisi konsumen, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mengusulkan kepada Presiden agar menetapkan Hari Konsumen Nasional. Penatapan ini ditujukan agar banyak pihak termotivasi untuk membangun konsumen yang cerdas dan pelaku usaha yang semakin memiliki etika dalam usahanya.
Pada dasarnya, Hari Konsumen Nasional bertujuan sebagai upaya penguatan kesadaran secara masif akan arti pentingnya hak dan kewajiban konsumen serta sebagai pendorong meningkatnya daya saing produk yang dihasilkan pelaku usaha dalam negeri.
Menempatkan konsumen pada subyek penentu kegiatan ekonomi sehingga pelaku usaha terdorong untuk dapat memproduksi dan memperdagangkan barang/jasa yang berkualitas serta berdaya saing di era globalisasi.
Menempatkan konsumen untuk menjadi agen perubahan dalam posisinya sebagai subyek penentu kegiatan ekonomi Indonesia. Mendorong pemerintah dalam melaksanakan tugas mengembangkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia dan untuk mendorong pembentukan jejaring komunitas perlindungan konsumen.

Referensi
Keputusan Presiden  Nomor 13 Tahun 2012 tentang Hari Konsumen Nasional.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.



Sejarah Hari Ibu 22 Desember


 Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapan rasa sayang dan terima ka Gevedu:  Sejarah Hari Ibu 22 Desember

Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapan rasa sayang dan terima kasih kepada ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan hari tersebut merupakan kado istimewa atau pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan sehari-harinya.
Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap tanggal 22 Desember. Pada hari tersebut umumnya masyarakat menyimbolkan sebagai hari cinta kasih sayang seorang anak terhadap ibunya. Namun, awal mula ditetapkan tanggal tersebut sebagai hari ibu bukanlah hanya sebatas hubungan antara anak dan ibu.
Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi tersebut tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama.
Pada sejarahnya, tanggal 22-25 Desember 1928, kaum perempuan menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Kongres perempuan merupakan semangat perjuangan kaum wanita yang muncul setelah peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Peristiwa tersebut kemudian memecut kaum perempuan untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan.
Pada tanggal 20-24 Juli 1935, Kongres Perempuan Indonesia II diadakan kembali di Jakarta. Kongres ini berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia dan menetapkan fungsi perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan rasa kebangsaan.
Pada Juli 1938, Kongres Perempuan Indonesia III dilaksanakan di Bandung dan menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu sebagai kelanjutan hasil Kongres Perempuan Indonesia II.
Pada Juli 1941, diadakan Kongres Perempuan Indonesia IV di Semarang yang berupaya menuntut agar perempuan dapat dipilih dalam Dewan Kota juga memiliki hak pilih serta membentuk badan pekerja penyelidik masalah tenaga kerja perempuan dan memperbaiki ekonomi perempuan Indonesia.
Pemerintah kemudian menerbitkan regulasi mengenai Hari Ibu pada tahun 1959. Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Penetapan didasarkan pada tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I. Saat ini, Badan Kongres Perempuan Indonesia berubah nama menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Tidak hanya nama organisasi yang berubah, kini makna Hari Ibu mulai bergeser dan mulai dicampuradukkan dengan tradisi barat, seperti Mother’s Day. Padahal, Hari Ibu memiliki makna yang lebih mendalam dari hanya sekedar kasih sayang ibu dan anak. Hari ibu juga berkaitan dengan tonggak sejarah perjuangan perempuan Indonesia mencapai kemerdekaan, mempertebal rasa kebangsaan, hingga perjuangan perempuan untuk mendapat hidup yang layak.



Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, Pahalawan Nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia. Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tidak dapat dilepaskan dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

 bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari ulang  Gevedu:  Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewandi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga di lingkungan kraton Yogyakarta, 2 Mei 1889. Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), namun karena sakit ia tidak sampai tamat. Ki Hadjar Dewantara kemudian menjadi wartawan di beberapa surat kabar, diantaranya Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara pada surat kabar tersebut sangat komunikatif dan tajam sehingga mampu membangkitkan semangat patriotik dan antikolonial bagi rakyat Indonesia saat itu.
Selama era kolonialisme Belanda, Ki Hadjar Dewantara dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintahan Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.
Kritiknya terhadap perayaan seratus tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis di bulan November 1913 dimana biaya perayaan tersebut ditarik dari uang rakyat Indonesia dan dirayakan di tengah-tengah penderitaan rakyat yang masih dijajah menyebabkan Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, yakni Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga tokoh ini selanjutnya dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’.

 bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari ulang  Gevedu:  Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
Tiga Serangkai

Sekembalinya dari Belanda pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan sebuah perguruan bercorak nasional yang bernama National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Dari sinilah lahir konsep pendidikan nasional hingga Indonesia meredeka.
Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan yang selalu ia terapkan dalam sistem pendidikan. Secara utuh, semboyan tersebut dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya, di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, guru menciptakan prakarsa dan ide, serta dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Hingga kini, semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia dan terus digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Ia juga mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.
Atas jasanya dalam merintis pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, yakni tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.



Sejarah Hari Batik Nasional 2 Oktober


 menetapkan bahwa batik merupakan warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi  Gevedu:  Sejarah Hari Batik Nasional 2 Oktober

Tanggal 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan bahwa batik merupakan warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (masterpiece of the oral and intangible herigate of humanity) dari Indonesia.
Batik pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soeharto pada saat mengikuti konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Batik Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia, melewati berbagai halangan. Batik pernah diklaim oleh banyak negara lain yang mengaku memiliki motif batik tersebut. Oleh sebab itu, Indonesia berjuang agar batik Indonesia dapat menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia dan diakui oleh UNESCO. Indonesia mengikutsertakan batik dalam proses nominasi yang dilakukan pada tanggal 3 September 2009.
Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik merupakan warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi dari Indonesia. UNESCO menilai bahwa batik Indonesia memiliki banyak simbol yang berkaitan erat dengan kebudayaan lokal, status sosial, alam, dan sejarah. Batik merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Sehingga batik tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.
Sejalan dengan pengakuan UNESCO, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi menetapkan Hari Batik Nasional sebagai wujud rasa syukur dan mendorong masyarakat agar terus mengembangkan batik nasional. Penetapan Hari Batik Nasional juga sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan martabat bangsa Indonesia dan citra positif Indonesia di mata internasional. Pengakuan terhadap batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia sama hal nya dengan pengakuan dunia internasional terhadap budaya Indonesia. Hal ini juga untuk menumbuhkan dan mengembangkan kecintaan dan rasa bangga masyarakat Indonesia terhadap batik.

Referensi
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional.



Sejarah Hari Guru Nasional 25 November


 Peran para guru bukan hanya untuk mencerdaskan dan memajukan pendidikan bangsa Gevedu:  Sejarah Hari Guru Nasional 25 November

Peran para guru bukan hanya untuk mencerdaskan dan memajukan pendidikan bangsa. Sejak dulu, para guru telah berjuang untuk membantu bangsa Indonesia terbebas dari tekanan penjajah, membebaskan bangsa dari kebodohan, dan berjuang meraih kemerdekaan. Guru adalah pembangun, pejuang, dan inspirator peradaban.
Jika kita menilik catatan masa lalu, momentum penetapan Hari Guru Nasional dimulai sejak adanya perjuangan guru di Indonesia dalam Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912 sebelum kemerdekaan. Pada masa kolonial, organisasi ini beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Seiring perkembangannya, pada tahun 1932 PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Penambahan kata “Indonesia” mengejutkan dan menciutkan pemerintah Belanda. Pasalnya, kata tersebut mencerminkan semangat kebangsaan.
Berawal dari situ, kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan kian memuncak. Hal tersebut telah mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Gerakan perlawanan dimulai dengan menguasai jabatan strategis di sekolah-sekolah yang dipegang Belanda. Akhirnya, terbitlah cita-cita kesadaran bahwa perjuangan para guru Indonesia tidak lagi tentang perbaikan nasib maupun kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi memuncak menjadi perjuangan nasional. Namun, bukanlah hal yang mudah bagi para guru untuk melakukan perjuangan merebut kebebasan. Ketika Jepang datang ke tanah air, PGI sempat dibungkam dan dilarang.
Pada saat Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, PGI kembali menggeliat. Mereka menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalui semangat persatuan dan persamaan, para guru berkumpul untuk mencerdaskan bangsa. Pada tanggal 25 November 1945 organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) lahir. Para peserta kongres sepakat menghapuskan semua organisasi dan kelompok guru berlatar belakang perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku.
Pada artikel yang tertulis di situs resmi PGRI, karena jasa dan penghargaan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.
Keputusan Presiden tersebut diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

Referensi
Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Demikian  Gevedu:  Sejarah Peringatan Hari ...

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya