Gevedu: Rangkuman Materi IPS SD (Paket 5)


Rangkuman Materi IPS K13 SD - Selamat datang di Geveducation, apa kabar Bapak/Ibu guru kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD? pada kesempatan semester 2 genap tahun pelajaran 2018/2019 ini berikut admin share mengenai Rangkuman Materi Muatan IPS KTSP baik K-2006 maupun Tematik K-2013 Kurtilas Kurikulum 2013 SD yang mana rangkuman materi IPS atau  Ilmu Pengetahuan Sosial ini dapat juga adik-adik kelas 6 SD simak sebagai referensi belajar mempersiapkan diri menghadapi pelaksanaan Ujian Sekolah 2019 USBN 2019.
 
Budi Utomo


 Wahidin Soedirohusodo adalah seorang tokoh cendikiawan lulusan sekolah dasar dokter Jawa  Gevedu:  Budi Utomo

Dr. Wahidin Soedirohusodo adalah seorang tokoh cendikiawan lulusan sekolah dasar dokter Jawa bernama School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA) yang sangat peduli atas nasib bangsanya. Kondisi bangsa Indonesia, terutama rendahnya pendidikan, membuat Dr. Wahidin Soedirohusodo merasa ikut bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Pada tahun 1907, Dr. Wahidin Soedirohusodo memutuskan untuk berkeliling pulau Jawa mengkampanyekan peningkatan martabat dan kehormatan rakyat. Peningkatan ini akan diwujudkan dengan mengadakan himpunan dana pendidikan. Namun ternyata, usaha tersebut tidak begitu membuahkan hasil.
Pada akhir tahun 1907, Dr. Wahidin Soedirohusodo bertemu dengan Soetomo, seorang pemuda yang merupakan siswa STOVIA. Perbincangan tentang kondisi nasib rakyat Indonesia kemudian menggugah Soetomo untuk mendiskusikan hal tersebut dengan teman-temannya. Melalui diskusi dan perbincangan yang berkelanjutan inilah mereka sepakat mendirikan perkumpulan yang bergerak memperhatikan nasib kehidupan bangsa terutama dalam hal pendidikan. Organisasi perkumpulan tersebut dinamakan Budi Utomo.
Pada tanggal 20 Mei 1908, betempat di Jalan Abdulrahman Saleh 26 Jakarta, Dr. Wahidin Soedirohusodo, Soetomo, dan kawan-kawannya sepakat mendirikan organisasi Bumi Utomo dengan Soetomo sebagai ketua. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi organisasi tersebut.
Tujuan Budi Utomo adalah menyadarkan rakyat Indonesia dan berusaha meningkatkan kemajuan penghidupan bangsa. Di dalam meningkatkan penghidupan itu juga disertai usaha memperdalam keseniaan dan kebudayaan. Tujuan lainnya adalah menjamin kehidupan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terhormat dengan menitikberatkan hal pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan.
Pada bulan Juli 1908, sebanyak 650 orang tergabung dalam organisasi Budi Utomo. Anggota-anggota tersebut tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Surabaya, dan Probolinggo. Secara resmi, Budi Utomo menetapkan fokus perhatian dalam pergerakannya, yaitu pada penduduk Jawa dan Madura karena pada saat itu wilayah tersebut paling banyak mendapat pengaruh penjajahan Belanda.
Pada awalnya, Budi Utomo ditolak oleh sebagian besar golongan kaum priyayi atau bangsawan. Hal ini dikarenakan kaum priyayi pendukung birokrasi dari golongan ningrat  tidak senang terhadap gerakan yang mengancam kedudukan kaum bangsawan yang menjadi penguasa dalam birokrasi.
Kaum priyayi pendukung birokrasi berpiki bahwa organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo akan menghambat atau bahkan mengganggu kepentingan mereka. Organisasi seperti Budi Utomo dianggap akan membentuk penggerak-penggerak yang nantinya akan melakukan perubahan terhadap struktur sosial yang telah ada. Para penggerak ini akan menjadi kaum terpelajar yang akan mengurangi ruang lingkup kekuasaan tunggal birokrasi. Meskipun kaum terpelajar pada masa awal pergerakan nasional masih didominasi oleh kaum bangsawan, namun tidak menutup kemungkinan Budi Utomo dapat membahayakan kedudukan kaum penguasa terkait status sosialnya.
Namun kemudian Budi Utomo memperoleh dukungan tanpa syarat dari kalangan cendikiawan atau kaum intelek Jawa yang peduli terhadap pendidikan bangsa. Menyikapi hal ini, para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Budi Utomo memberi kesempatan kepada golongan tua kaum cendikiawan untuk memegang jabatan penting bagi pergeraan ini. Buktinya pada kongres pertama Budi Utomo tanggal 5 Oktober 1908 yang diadakan di Yogyakarta sepakat menentukan pengurus besar organisasi berasal dari golongan tua. Sehingga apabila dijabarkan, pengurus besar organisasi, antara lain:
1. R. T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, sebagai ketua pengurus besar.
2. Anggota pengurus besar didominasi oleh para pegawai maupun para mantan pegawai yang bekerja di pemerintahan.
3. Pengurus organisasi adalah dewan pimpinan yang merupakan para pejabat generasi tua. Mereka adalah para pemerhati pendidikan.
Penetapan pusat organisasi Budi Utomo adalah Yogyakarta. Kongres Budi Utomo pertama ini berhasil mencapai kesepakatan tentang tujuan organisasi, yakni untuk mewujudkan cita-cita memajukan bangsa dan negara yang harmonis, hal utamanya adalah bidang pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik, industri, dan kebudayaan.
Sebelumnya terjadi perbedaan pendapat dalam kongres pertama tersebut. Perbedaan itu disebabkan oleh adanya kelompok minoritas pimpinan dr. Cipto Mangunkusumo. Kelompok minoritas ini bermaksud dan berkeinginan memperjuangkan Budi Utomo agar menjadi partai politik yang nantinya bermanfaat untuk mengangkat rakyat secara umum, tidak terbatas hanya pada kaum bangsawan. Mereka juga menginginkan agar pergerakan Budi Utomo tidak sebatas di Jawa dan Madura, namun cakupannya menyeluruh ke seluruh Nusantara. Namun, pendapat ini tidak berhasil mendapat dukungan. Pada akhirnya, tahun 1909, dr. Cipto Mangunkusumo mengundurkan diri dari Budi Utomo.
Pada tahun 1924, Soetomo merasa tidak puas dengan Budi Utomo. Penyebab ketidakpuasan itu adalah seiring berjalannya waktu, asas kebangsaan Jawa pada Budi Utomo sudah tidak sejalan lagi dengan asas kebangsaan yang bersifat nasionalis. Soetomo kemudian mendirikan Indonesische Studieclub di Surabaya. Indonesische Studieclub seiring perkembangannya kemudian menjadi Persatuan Bangsa Indonesia.
Budi Utomo bergabung ke dalam gerakan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada tahun 1927. PPPKI adalah sebuah gerakan yang dipelopori Ir. Soekarno. Meskipun demikian, Budi Utomo tetap berkecimpung pada kegiatan-kegiatan kebangsaan.
Pada tahun 1928, Budi Utomo mengambil suatu langkah maju dengan menambah asas dan tujuan pergerakannya, yaitu turut berusaha mewujudkan cita-cita persatuan Indonesia. Ini adalah langkah bijak perjuangan, sebab pada saat itu semangat persatuan bangsa Indonesia sedang berkibar di bumi Nusantara. Dari sini terlihat bahwa Budi Utomo sedang berusaha memperluas gerakannya. Budi Utomo tidak hanya mementingkan rakyat Jawa dan Madura, tetapi secara keseluruhan Budi Utomo juga memperhatikan persatuan bangsa Indonesia.
Pada tahun 1935, usaha mencapai persatuan Indonesia dilanjutkan dengan melakukan fusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Persatuan ini dipimpin oleh Soetomo. Hasil fusi ini membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra). Dengan ini, maka berakhirlah Budi Utomo yang berperan sebagai organisasi pergerakan di Indonesia.



Sumpah Pemuda


Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa  Gevedu:  Sumpah Pemuda

Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Sumpah pemuda adalah keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan dua hari pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta).
Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap perkumpulan kebangsaan Indonesia dan agar disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan.
Peristiwa sejarah Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemuda-Pemudi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, serta pengamat dari pemuda Tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang, dan Tjoi Djien Kwie.
Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Pada sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Muhammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
1. Abdul Muthalib Sangadji
2. Purnama Wulan
3. Abdul Rachman
4. Raden Soeharto
5. Abu Hanifah
6. Raden Soekamso
7. Adnan Kapau Gani
8. Ramelan
9. Amir (Dienaren van Indie)
10. Saerun (Keng Po)
11. Anta Permana
12. Sahardjo
13. Anwari
14. Sarbini
15. Arnold Manonutu
16. Sarmidi Mangunsarkoro
17. Assaat
18. Sartono
19. Bahder Djohan
20. S.M. Kartosoewirjo
21. Dali
22. Setiawan
23. Darsa
24. Sigit (Indonesische Studieclub)
25. Dien Pantouw
26. Siti Sundari
27. Djuanda
28. Sjahpuddin Latif
29. Dr. Pijper
30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
31. Emma Puradiredja
32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
33. Halim
34. R.M. Djoko Marsaid
35. Hamami
36. Soekamto
37. Jo Tumbuhan
38. Soekmono
39. Joesoepadi
40. Soekowati (Volksraad)
41. Jos Masdani
42. Soemanang
43. Kadir
44. Soemarto
45. Karto Menggolo
46. Soenario (PAPI & INPO)
47. Kasman Singodimedjo
48. Soerjadi
49. Koentjoro Poerbopranoto
50. Soewadji Prawirohardjo
51. Martakusuma
52. Soewirjo
53. Masmoen Rasid
54. Soeworo
55. Mohammad Ali Hanafiah
56. Suhara
57. Mohammad Nazif
58. Sujono (Volksraad)
59. Mohammad Roem
60. Sulaeman
61. Mohammad Tabrani
62. Suwarni
63. Mohammad Tamzil
64. Tjahija
65. Muhidin (Pasundan)
66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
67. Mukarno
68. Wilopo
69. Muwardi
70. Wage Rudolf Soepratman
71. Nona Tumbel

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Muhammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut:
Pertama: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
Kedua: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
Ketiga: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Pada peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali, diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa mengunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI, Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik W. R. Soepratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.

Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa  Gevedu:  Sumpah Pemuda
Museum Sumpah Pemuda


Agresi Militer Belanda I


 Agresi Militer Belanda I atau secara internasional disebut juga  Gevedu:  Agresi Militer Belanda I

Agresi Militer Belanda I atau secara internasional disebut juga Operatie Product adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil yang diberlakukan Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas Perjanjian Linggarjati. Dari sudut pandang Republik Indonesia, operasi ini dianggap merupakan pelanggaran dari hasil Perjanjian Linggarjati.
Diplomasi antara Belanda dan Indonesia mengalami jalan buntu karena kedua belah pihak saling menuduh telah melakukan pelanggaran-pelanggaran, dan masing-masing pihak bersikukuh atas interpretasi isi Perjanjian Linggarjati dan saling tidak mempercayai satu sama lain tentang pelaksanaan perjanjian tersebut.
Pihak Belanda secara terang-terangan mengirim tentara ke Indonesia dengan dalih untuk menjaga keamanan (police action) dan berupaya meyakinkan pihak internasional bahwa apa yang mereka lakukan adalah urusan dalam negeri, bukan agresi terhadap negara yang berdaulat. Apapun alasannya, pengiriman tentara dalam jumlah banyak dengan perlengkapan militer yang modern merupakan persiapan Aksi Militer yang sangat bertentangan dengan isi Perjanjian Linggarjati yang telah disepakati kedua belah pihak.
Walaupun pihak Indonesia masih memegang teguh isi Perjanjian Linggarjati, pihak Belanda terus mengobarkan sentimen anti Linggarjati dan menekan pihak Indonesia melalui diplomasi setengah hati dan ancaman Agresi Militer, serta mengacaukan perekonomian, dengan pemalsuan mata uang secara besar-besaran. Belanda juga terus melakukan upaya untuk memecah belah Republik Indonesia dengan membentuk daerah otonomi baru secara sepihak di luar Jawa, yakni di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Bangka Belitung, dan Riau. Belanda juga berencana melakukan plebisit (pemungutan suara) di daerah Jawa Barat, yang notabene berdasar pada Perjanjian Linggarjati merupakan wilayah Indonesia. Pihak Indonesia dengan tegas menolak plebisit secara sepihak, dan menuntut jika ada plebisit, maka pelaksanaannya harus dikawal oleh pihak internasional.
Tidak adanya kemajuan dalam pelaksanaan Perjanjian Linggarjati membuat dunia internasional mendesak kedua belah pihak tersebut untuk melaksanakan perjanjian secara konsekuen. Australia dengan tegas mendukung upaya dimulainya perdagangan dengan pihak Indonesia. India juga mengirim delegasi ke Yogyakarta untuk melakukan pembicaraan tidak resmi dengan pihak Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dan dagang dengan Indonesia. Suasana semakin memanas karena Belanda memprotes kegiatan-kegiatan hubungan luar negeri Indonesia yang berhasil memperoleh pengakuan atas Indonesia dan mengadakan perjanjian persahabatan.
Pada bulan Mei 1947 pihak Belanda sudah memutuskan bahwa mereka harus menyerang Indonesia secara langsung. Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam, pihak Belanda melancarkan aksi Polisional mereka yang pertama. Pasukan-pasukan bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat, dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan dalam di Jawa. Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi-instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diserang. Di sejumlah daerah pun terjadi aksi perlawanan.
Pada agresi militer pertama ini, Belanda mengerahkan kedua pasukan khusus, yaitu Korps Speciaale Troepen (KST) di bawah pimpinan Westerlling, dan Pasukan Para I (le para compagnie) di bawah pimpinan Kapten C. Sisselaar.
Tujuan utama Agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, termasuk minyak. Namun, sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H. J. van Mook menyampaikan pidato pada radio, yang menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Perjanjian Linggarjati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang dengan dipersenjatai senjata yang modern.
Agresi Militer Belanda I berhasil merebut daerah-daerah di wilayah Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan. Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik Indonesia dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh, dan Perwira Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.
Sebagai reaksi, pemerintah India dan Australia pada tanggal 30 Juli 1947 mendesak dewan keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membicarakan serangan Belanda tersebut. Pada tanggal 1 Agustus 1947, dewan keamanan PBB menyerukan agar paling lambat tanggal 4 Agustus 1947 kedua pihak menghentikan tembak menembak. Atas usul Amerika Serikat, dewan keamanan PBB juga membentuk komisi jasa baik yang terdiri atas tiga negara. Tugas komisi tersebut adalah mengawasi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda. Indonesia memilih Australia yang diwakili oleh Richard Kirby, sedangkan Belanda memilih Belgia yang diwakili Paul van Zeeland. Kedua pihak tersebut kemudian memilih Amerika Serikat yang diwakili Dr. Frank Porter Graham. Komisi ini mulai bekerja pada bulan Oktober 1947 dan dikenal dengan sebutan komisi tiga negara.



Pertempuran Ambarawa


 Komando Sekutu Asia Tenggara di Singapura mengutus tujuh perwira Inggris di bawah pimpina Gevedu:  Pertempuran Ambarawa

Setelah berhasil mengalahkan Jepang, Komando Sekutu Asia Tenggara di Singapura mengutus tujuh perwira Inggris di bawah pimpinan Mayor A. G. Greenhalgh untuk datang ke Indonesia. Mereka tiba di Indonesia pada 8 September 1945 dengan tugas mempelajari dan melaporkan keadaan di Indonesia menjelang pendaratan rombongan Sekutu.
Pada tanggal 16 September 1945, rombongan perwakilan Sekutu mendarat di Tanjung Priok, Jakarta dengan menggunakan kapal Cumberland. Rombongan ini dipimpin Laksamana Muda W. R. Patterson. Sekutu menugaskan sebuah komando khusus untuk mengurus Indonesia dengan nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Komando ini dipimpin Letjen Sir Philip Christison yang memiliki tugas:
1. Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Indonesia.
2. Membebaskan para tawanan perang.
3. Melucuti dan memulangkan tentara Jepang.
4. Memulihkan keamanan dan ketertiban.
5. Mencari dan mengadili para penjahat Jepang.
AFNEI mulai mendaratkan pasukannya di Jakarta pada 29 September 1945. Pasukan ini hanya bertugas di Sumatera dan Jawa, sedangkan daerah Indonesia lainnya diserahkan kepada Angkatan Perang Australia. Kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia semula mendapat sambutan baik. Akan tetapi, setelah diketahui mereka datang disertai orang-orang Netherlandsch Indie Civil Administratie (NICA), sikap bangsa Indonesia berubah menjadi penuh kecurigaan dan bahkan akhirnya bermusuhan. Bangsa Indonesia mengetahui bahwa NICA berniat menegakkan kembali kekuasaannya. Situasi berubah memburuk manakala NICA mempersenjatai kembali bekas anggota Koninklijk Nederlands Indies Leger (KNIL). Satuan-satuan KNIL yang telah dibebaskan Jepang kemudian bergabung dengan tentara NICA. Di berbagai daerah, NICA dan KNIL yang didukung Sekutu melancarkan provokasi dan melakukan teror terhadap para pemimpin nasional sehingga pecahlah berbagai pertempuran di daerah-daerah, salah satunya di Ambarawa.
Ambarawa, sebuah daerah yang terletak di sebelah selatan kota Semarang, Jawa Tengah. Pada pertempuran Ambarawa, rakyat beserta tentara Indonesia berjuang mempertahankan daerahnya dari cengkeraman tentara Sekutu yang mencoba membebaskan para tahanan tentara Belanda, NICA.
Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Berthell mendarat di Semarang dengan tujuan mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan Sekutu ini awalnya disambut baik, bahkan Gubernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas Sekutu, sedangkan Sekutu berjanji tidak akan menganggu kedaulatan Republik Indonesia. Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA telah sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, justru mempersenjatai mereka sehingga menimbulkan amarah pihak Indonesia. Insiden bersenjata timbul di Kota Magelang, hingga terjadi pertempuran. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak sebagai penguasa yang mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan membuat kekacauan. TKR Resimen Magelang pimpinan M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Kemudian pasukan Sekutu secara diam-diam meninggalkan kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa. Akibat peristiwa tersebut, Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letnan Kolonel M. Sarbini segara mengadakan pengejaran. Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Satrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh, dan Surakarta.
Sekutu kembali dihadang oleh Batlyon I Suryosumpeno di Ngipik. Pada saat mundur, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut. Pada pertempuran tersebut Letnan Kolonel Isdiman gugur. Sejak gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Soedirman merasa kehilangan perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran.
Tanggal 23 November 1945 ketika matahari mulai terbit, mulailah pertempuran dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan pekuburan Belanda, di Jalan Margo Agung. Pasukan Indonesia yang terlibat, yakni Yon Imam Androngi, Yon Soeharto, dan Yon Sugeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tank, menyusup dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia mundur ke Bedono.
Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Kemudian pada tanggal 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Kolonel Soedirman langsung mempimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang atau pengepungan rangkap sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya terputus sama sekali. Setelah bertempur selama empat hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa, serta Sekutu mundur ke Semarang.
Kemenangan pertempuran ini diabadikan dengan didirikannya Monumen Palagan Ambarawa dan diperingatinya Hari Jadi TNI Angakatan Darat atau Hari Juang Kartika. Hingga kini, darah juang yang telah berkobar di bumi Ambarawa menjadi bukti dari keteguhan serta pengorbanan untuk mempertahankan harga diri bangsa yang harus tetap kita pertahankan sampai kapanpun.

Raden Ajeng Kartini


 Raden Ajeng Kartini dilahirkan pada tanggal  Gevedu:  Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara. Kartini merupakan cucu dari Pangeran Ario Tjondronegoro, Bupati Demak. Beliau adalah seorang bupati yang mendidik anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan dengan pelajaran Barat. Padahal, pada masa itu belum ada pemikiran untuk memberikan pendidikan kepada orang pribumi dengan metode orang Barat yang masih dianggap hina, tetapi beliau tidak memperdulikannya.
Beberapa tahun sebelum meninggal, Pangeran Ario Tjondronegoro berpesan pada anak-anaknya, sebagai berikut “anak-anakku, jika tidak dapat mendapat pengajaran, engkau tiada akan mendapat kesenangan, keturunan kita akan mundur, ingatlah” (Kartini, 2001, hlm. 3). Sifat ini juga dimiliki oleh Kartini, serta seluruh saudaranya.
Kartini adalah anak kelima dari sebelas saudara. Kakak Kartini adalah “Raden Ayu Tjokroadisosro dan Drs. R. M. Sosrokartono” (Kartini, 2001, hlm. 4). Sementara adik-adik Kartini diantaranya “R. A. Kardinah yang menjadi R. A. Reksonagoro (Bupati Tegal), R. A. Kartinah menjadi R. A. Dirdjoprawito, R. M. Sosromuljono, R. A. Sumantri menjadi R. A. Sosrohadikusumo, dan R. M. Sosrorawito” (Kartini, 2001, hlm, 4).
“Ayah Kartini (R. M. Ario Sosroningkrat) mempunyai dua istri, Ngasirah dan Raden Ajeng Moerjam. Sewaktu menjabat sebagai wedana, ayahnya sudah menikah dengan Ngasirah, seorang anak perempuan yang berusia 14 tahun dari kalangan rakyat biasa, bukan bangsawan. Ayah Ngasirah adalah seorang kiai di desa Telukuwur, Jepara, benama Kiai Modirono. Sedangkan ibunya, Nyai Aminah yang juga dari kalangan biasa” (Sumarthana, 1993, hlm. 7).
Sesuai dengan asal lingkungan sosial asalnya, Ngasirah hanya menerima pendidikan tradisional, yakni mengikuti pelajaran agama yang dipimpin oleh seorang guru ngaji dan baru belakangan ia bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa serta sedikit berbahasa Melayu. Ketika diangkat menjadi Bupati Jepara, R. M. Ario Sosroningkrat menikah lagi dengan R. A. Moerjam, seorang gadis keturunan bangsawan Madura yang kemudian menjadi Raden Ayu dari bupati Sosroningkrat.
“Meskipun anak bangsawan, R. A. Moerjam tidak sempat menikmati pendidikan Belanda. Namun, ia lancar berbahasa Melayu dan hanya secara pasif berbahasa Belanda. Kartini bukan anak kandung Raden Ayu, melainkan anak dari Ngasirah. Sekalipun memiliki status istri resmi bupati, kedudukan Ngasirah dalam rumah tangga di Kabupaten Jepara sebagai selir” (Sumarthana, 1993, hlm. 8-9).
Semasa kecil, Kartini tidak hanya diasuh oleh ibunya, Ngasirah, juga oleh Mbok Emban Lawiyah. “Kartini tumbuh menjadi gadis kecil yang lincah dan banyak akalnya, sehingga dipanggil ‘Nil’ oleh ayahnya” (Jonk Tondowidjojo, 1991, hlm. 3). Kartini kecil tumbuh menjadi gadis yang sangat teliti. Semua yang dikerjakan selalu dilihat terlebih dahulu dengan seksama. Setelah mengerti semua, baru dikerakannya. Dalam bergaul, Kartini juga tidak pernah membeda-bedakan antara teman yang satu dengan yang lainnya.
Tanda-tanda perjuangan emansipasi yang dilakukan Kartini, telah nampak sejak ia berumur enam setengah tahun. Kartini ingin sekolah. Inilah yang menimbulkan kebingungan keluarganya. Sebab pada masa itu, yang boleh sekolah hanya anak laki-laki dan anak perempuan keturunan Belanda. Sementara anak perempuan orang pribumi dilarang sekolah.
Bagi anak-anak perempuan Jawa, pendidikan resmi di sekolah pada masa itu dianggap tabu, tidak dibenarkan oleh adat, dan dicerca oleh masyarakat. Namun Kartini kecil memberontak tradisi yang sangat diskriminatif tersebut. Apalagi melihat semua kakak laki-lakinya dimasukkan ke sekolah. Itu membuatnya iri dan mendesak ayahnya agar mengizinkannya bersekolah.
“Melihat kegigihan Kartini, sang ayah menjadi serba salah. Satu sisi, hati nuraninya sebagai orang yang memiliki semangat untuk memajukan bangsa, membenarkan keinginan anak perempuannya itu. Semangat yang mengalir dari darahnya sendiri” (Idjah Chodijah, 1986, hlm. 31-34). Walau bagaimanapun, ia tidak bisa begitu saja menuruti kemauan puterinya. Keinginan Kartini itu menyalahi adat yang telah mapan secara turun-temurun.
Perjuangan Kartini tidak sia-sia. Akhirnya ia mendapat izin ayahnya untuk bersekolah. Di sekolah ia bergaul dengan anak-anak keturunan Indo-Belanda. Anak Jawa hampir tidak ada. Karena hanya putra Bupati (bangsawan) saja yang diizinkan sekolah di sekolah Belanda. Kesempatan ini tidak Kartini sia-siakan. Di samping belajar bahasa Belanda, ia juga belajar bahasa Jawa di rumahnya. Belajar menjahit, menyulam, dan merajut dari seorang nyonya Belanda. Selain itu, ia juga belajar membaca Al-Quran kepada seorang santri. Sebagai murid pribumi, Kartini tampak lebih menonjol dibandingkan murid-murid lain yang berkebangsaan Belanda. Kecerdasannya tergolong istimewa. Dengan cepat ia dapat menangkap pelajaran-pelajaran yang diberikan gurunya. Tidak heran, jika setiap tahun ia selalu naik kelas dengan prestasi yang sangat memuaskan. Ia selalu rangking, meski tidak selalu nomor satu.
Saat berusia dua belas tahun, sesuai adat, Kartini harus dipingit. Sejarah Kartini mulai jelas pada masa pingitan ini. Sejak itu ia tidak membiarkan segala sesuatu terjadi di sekelilingnya, hilang dengan percuma tanpa pengamatan. Dalam pingitan itu ia merenung, seakan hidupnya yang masih muda itu dipaksa untuk memahami persoalan-persoalan yang sebenarnya belum layak menjadi perhatiannya. “Dari kehidupan bocah yang bebas merdeka, menjadi hukuman dengan peraturan-peraturan yang mengekang dan memaksanya menjadi dewasa sebelum waktunya” (Pramoedya Ananta Toer, 2000, hlm. 44-45).
Saat dalam pingitan, Kartini merasa kesepian. Pada mulanya teman-temannya yang akan pergi ke Belanda datang menjenguknya. Tetapi kemudian tidak datang lagi karena mereka sudah berangkat ke Belanda. Kartini pun tidak memiliki teman yang bisa diajak berpikir tentang masa depan perempuan di negerinya yang hidup dalam ketertindasan.
Kartini tidak menyerah begitu saja. Beruntung karena ia diizinkan membaca buku-buku bahasa Belanda dan surat-menyurat dengan teman-temannya di Eropa. Berbeda dengan saudara peremuannya yang memegang teguh adat istiadat dan tidak setuju dengan cita-cita Kartini.
Semakin dewasa, Kartini semakin bertambah matang pemikirannya. Bacaannya sangat luas, yang meliputi buku-buku dan surat kabar berbahasa Belanda, Jerman, dan Prancis. Hal ini semakin memperluas cakrawala pengetahuan Kartini mengenai pandangan dunia, hak asasi manusia (HAM), dan keadilan yang diperuntukkan bagi semua.
Maka tidak heran jika kemudian Kartini senang surat-menyurat dengan beberapa sahabat pena yang berasal dari beberapa negara. Di antara mereka tercatat nama Abendanon (Belanda) dan Stella Zeehandelar (Belanda). Mereka saling mengenal dari koran-koran harian dan majalah-majalah berbahasa Belanda dan Jawa. Mereka saling bertukar pandangan mengenai buku-buku tentang pergerakan perempuan.
Tahun 1902, Kartini berkenalan dengan van Kol dan istrinya, Nellie yang sepakat dengan cita-citanya belajar ke Belanda. Tanggal 26 November 1902, van Kol mendapat janji dari minister jajahan, bahwa Kartini dan saudaranya, Rukmini diberi beasiswa belajar ke Belanda.
Pada tanggal 25 Januari 1903, Abendanon berkunjung ke Jepara. Maksud  kedatangannya adalah membicarakan kemungkinan mendirikan sekolah perempuan pribumi. Dia ingin mendengarkan pendapat para bupati, termasuk ayah Kartini. Kartini sempat berdiskusi dengan istri Abendanon. Ia mengemukakan gagasannya mengenai pendirian sekolah bagi perempuan pribumi. Ayahnya membenarkan gagasan Kartini. Bahkan ayahnya setuju Kartini menempuh pendidikan guru. Tetapi, ketika rencananya mendirikan sekolah perempuan pribumi hampir terwujud, ayahnya sakit parah. Rencana pemerintah akan mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi tidak jadi dilaksanakan. Hal itu disebabkan para bupati yang dimintai pendapat tidak setuju dengan pendirian sekolah ini.
Walaupun tidak bisa menjadi guru, karena sekolah perempuan pribumi tidak jadi didirikan, Kartini bertekad menjadi dokter. Cita-citanya ini disetujui oleh ibunya, tinggal izin ayahnya yang ia perlukan. Akhirnya Kartini mendapat izin dari ayahnya, namun tetap ada masalah, yakni biaya. Kemudian ayahnya setuju untuk mengajukan beasiswa kepada pemerintah Hindia Belanda.
Permohonan Kartini untuk memperoleh beasiswa dikabulkan oleh pemerintah Belanda. Tetapi beasiswa itu ia tolak. Alasannya ia akan menikah. Tahun 1903, Kartini bersedia menjadi istri R. M. Joyohadiningkat, seorang Bupati Rembang. Kesediannya menikah ini karena Bupati Rembang tersebut pernah belajar di negeri Belanda, berusaha keras ingin memajukan rakyat, dan mendukung cita-cita Kartini, yakni memajukan rakyat, khususnya kaum perempuan dengan memberikan pendidikan kepada anak perempuan.
Tanggal 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang putra yang diberi nama Susalit yang kemudian diasuh oleh ibunda Ngasirah dan Bok Mangunwikromo. Pada tanggal 17 September 1904 tepat empat hari setelah melahirkan Kartini meninggal dunia. Meskipun Kartini tidak dikaruniai umur panjang, tetapi umur yang pendek itu sempat menggoreskan sebuah riwayat yang dikenal banyak orang. Ia dikenal melalui surat-suratnya yang mampu menggerakkan hati setiap pembacanya. Surat-surat itu ia tulis sejak 25 Mei 1899 sampai 7 September 1904. Gaya, ungkapan, dan ketajaman surat-surat tersebut mencerminkan kecerdasan pribadinya yang peka terhadap persoalan kemanusiaan di sekitarnya.

Referensi
Chodijah, I. (1986). Rintihan Kartini. Jakarta: Ikhwan.
Kartini (2001). Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka.
Sumarthana (1993). Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini. Jakarta: Pusat Utama Grafiti.
Toer, P. A. (2000). Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Hasta Mitra.
Tondowidjojo, J. (1991). Mengenang R. A. Kartini dan Tiga Saudara dari Jepara. Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama.

Demikian  Gevedu:  Rangkuman Materi IPS SD (Paket 5) Semester 1 dan 2

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya