K13 Semester 2 2019 : Jadwal Imsakiyah Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Untuk Kabupaten Wonosobo Tahun  K13 Semester 2 2019 : Jadwal Imsakiyah Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Untuk Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M:Buka Puasa, Sahur, Imsak, dan Jadwal Sholat






Jadwal imsakiyah yang disajikan kali ini khusus untuk wilayah Kabupaten Wonosobo. Bagi penduduk yang tinggal di wilayah tersebut, disarankan untuk melihat atau mencetak Jadwal Imsakiyah Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M biar dalam menjalankan puasa ramadhan pada tahun ini sanggup lebih khusyuk dan tertata. Selain menyajikan jadwal imsakiyah, pada tautan download yang disediakan juga berisi Jadwal Buka Puasa, Sahur, dan Jadwal Sholat.

Akan tetapi sebelum menginjak pada Jadwal Imsakiyah Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M, akan diulas terlebih dahulu wacana sejarah Kabupaten Wonosobo. Wonosobo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya yakni Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.

Kabupaten Wonosobo bangun 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro.

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo

Berdasarkan dongeng rakyat, pada awal era ke-17 tersebutlah 3 orang pengelana masing-masing berjulukan Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis permukiman yang diketahui dikala ini berjulukan Wonosobo. Selanjutnya, Kyai Kolodete bermukim di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim bermukim di tempat Kalibeber dan Kyai Walik bermukim di sekitar Kota Wonosobo sekarang.

Dikemudian hari, dikenal beberapa tokoh penguasa tempat Wonosobo menyerupai Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa tempat Wonosobo yang sentra kekuasaannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh yang berjulukan Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang sentra kekuasaannya di Pecekelan-Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok, Wonosobo, atau Plobangan dikala ini.

Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu Kyai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singodewono yang telah mendapat hadiah suatu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat sebagai penguasa tempat ini namanya diganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini sentra kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia, Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di Desa Pakuncen.

Selanjutnya pada masa Perang Diponegoro ( 1825 - 1830 ) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung usaha Diponegoro yakni Imam Misbach atau kemudian dikenal sebagai Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaraan, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngampah.

Dalam pertempuran melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu, Pangeran Diponegoro memperlihatkan nama kepada Kyai Muhamad Ngampah dengan nama Tumenggung Setjonegoro. Selanjutnya Tumenggung Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar nama Tumenggung Setjonegoro.

Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di tempat Ledok ini sanggup dilihat lebih jauh dari aneka macam sumber termasuk laporan Belanda yang dibentuk sehabis Perang Diponegoro berakhir. Disebutkan pula bahwa Setjonegoro yakni bupati yang memindahkan sentra kekuasaan dari Selomerto ke tempat Kota Wonosobo dikala ini.

Dari hasil seminar Hari Kaprikornus Wonosobo 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pmpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati Hari Kaprikornus Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.

Kuliner Khas Wonosobo

Kabupaten Wonosobo mempunyai beberapa kuliner khas, yaitu:

1. Mi Ongklok, yakni kuliner khas Kabupaten Wonosobo yang terbuat dari materi mi kering atau mi berair yang direbus dan diberi komplemen berupa sayur kubis yang dicampur adukkan ( di ongklok ) di dalam panci rebus, dan sehabis matang, ditambahkan dengan tepung kanji masak ( biasanya berwana coklat ) sebagai penyedap kuliner dan biasanya sanggup disantap dengan dilengkapi sate ayam.
2. Sego Megono, yakni kuliner khas Kabupaten Wonosobo yang dibentuk dari nasi yang dicampur dengan sayuran dan juga ikan teri, masyarakat Wonosobo pada umumnya menyebut Segu Megono dengan nama " Sego Reged " yang berarti nasi yang kotor alasannya terdapat adonan sayur dan juga ikan teri di dalamnya.
3. Dendeng Gepuk

Setelah mengetahui secara sekilas wacana Kabupaten Wonosobo beserta sejarahnya, berikut disajikan tautan Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Untuk Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M:Buka Puasa, Sahur, Imsak, dan Jadwal Sholat:


Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Untuk Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M:Buka Puasa, Sahur, Imsak, dan Jadwal Sholat


Dipersilahkan untuk mendonwload file tersebut pada tautan yang telah disediakan biar mendapat isu yang lengkap dan utuh.

Sekian goresan pena yang berjudul:

Jadwal Imsakiyah Kabupaten Wonosobo Tahun 1440 H/2019 M

Semoga sebaran isu ini bermanfaat dan salam sukses selalu!

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya